Matahari sore baru saja menggelincir ke ufuk barat ketika taksi putih yang kami tumpangi melaju membelah jalan raya beraspal mulus ke arah utara Kota Makkah. Tujuan kami adalah Masjid Tan’im, atau yang secara resmi bernama Masjid Aisyah. Jaraknya hanya sekitar 7,5 kilometer dari Masjidil Haram, menjadikannya sebagai titik batas luar Tanah Haram (miqat) yang paling dekat dan paling populer bagi penduduk lokal maupun para peziarah yang ingin melaksanakan ibadah umrah sunah berkali-kali.
Berbeda dengan perjalanan ziarah sejarah kami sebelumnya yang kasual, perjalanan sore ini memiliki nuansa antropologis yang sangat kontras sejak awal. Dari dalam taksi, kami mengamati interaksi sosial di sepanjang jalan raya utama. Rombongan kami terbagi dua: jemaah laki-laki di antara kami sibuk merapikan lipatan kain ihram putih yang bebas jahitan, sementara beberapa jemaah lain yang kali ini memilih mendampingi tanpa berumrah, tampil rapi dengan baju koko bersahaja. Di dalam kabin mobil yang melaju, obrolan santai perlahan meredup, tergantikan oleh suasana khusyuk dan helaan napas panjang dari kami yang sedang menata hati untuk bersiap menghadap Sang Pencipta.

Sosiografi Tan’im: Riuh Rendah Labbaika di Gerbang Suci
Begitu taksi berhenti di halaman parkir Masjid Tan’im, pemandangan sosiologis yang luar biasa langsung tersaji di depan mata kami. Kawasan ini laksana sebuah pabrik spiritual yang memproses manusia biasa menjadi tamunya Allah (dhuyufurrahman). Ratusan bus besar dan taksi lokal tak henti-hentinya menurunkan muatan peziarah dari berbagai penjuru dunia—mulai dari jemaah bertubuh tinggi besar asal Asia Tengah hingga rombongan keluarga bersahaja dari pelosok Nusantara.
Kami melangkah masuk ke dalam area masjid yang megah dengan dua menara tinggi yang mencuat ke langit sore. Lantai marmer masjid terasa dingin di bawah telapak kaki telanjang kami. Di area koridor samping, suasananya sangat riuh namun tertib. Banyak jemaah yang mengantre di area wudu untuk mandi sunah ihram, sementara beberapa jemaah di antara kami tampak sibuk saling membantu melilitkan kain ihram agar kuat dan tidak melorot saat tawaf nanti.
Bagi peziarah di antara kami yang tidak mengambil umrah, duduk di saf belakang masjid memberikan ruang pengamatan etnografi yang sangat menyentuh. Kami melihat seorang bapak lansia sedang dibimbing dengan sabar oleh seorang mutawwif muda untuk melafalkan niat. Ada getaran haru yang pekat di ruangan ini. Tan’im adalah tempat di mana manusia secara sadar melepaskan identitas keduniawiannya—pangkat, suku, dan harta—lalu menggantinya dengan dua lembar kain putih yang sama persis sebagai simbol kesetaraan mutlak di hadapan Ilahi.
Nilai Keagamaan: Belajar dari Kasih Sayang untuk Sang Ibu
Sembari menunggu sebagian dari kami menyelesaikan salat sunah ihram dua rakaat, kami merenungkan sejarah dan nilai keagamaan yang melandasi berdirinya masjid ini. Mengapa tempat ini dinamakan Masjid Aisyah?
Sejarah mencatat bahwa pada momen Haji Wada’ (haji perpisahan), Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah r.a. merasa sangat sedih karena ia mengalami datang bulan (haid) sehingga tidak bisa melaksanakan ibadah umrah bersama Rasulullah SAW. Setelah ia suci, Rasulullah SAW yang sangat memahami kesedihan istrinya tidak membiarkan Aisyah pulang ke Madinah dengan hati yang gundah. Beliau lalu memerintahkan saudara laki-laki Aisyah, Abdul Rahman bin Abu Bakar, untuk mengantarkan Aisyah keluar dari batas Tanah Haram menuju lembah Tan’im ini untuk mengambil niat (miqat) dan berumrah kembali.
Kisah di balik Tan’im ini mengajarkan nilai keagamaan yang sangat indah tentang pemberian kemudahan (rukhsah) dalam syariat Islam, sekaligus potret keluhuran akhlak Rasulullah SAW yang begitu menghargai dan memahami perasaan seorang perempuan. Islam bukan agama yang kaku; ia memberikan ruang solusi bagi hamba-Nya yang mengalami kendala fisik agar tetap bisa merasakan manisnya ibadah. Berdiri di masjid ini membuat kami sadar bahwa setiap sudut geografi Makkah selalu ditulis dengan tinta kasih sayang.
Menggema Talbiyah Menuju Pusat Gravitasi
Selesai melaksanakan salat sunah dan melafalkan niat “Labbaikallahumma ‘umratan” di dalam masjid, rombongan kami kembali melangkah menuju taksi di bawah langit sore yang mulai berubah warna menjadi ungu keemasan. Begitu roda mobil mulai berputar kembali mengarah ke selatan—menembus tugu penanda batas masuk Tanah Haram kembali—suasana di dalam kabin kami berubah total secara magis.
Suara obrolan duniawi kini lenyap sepenuhnya. Jemaah di antara kami yang telah berihram mulai mengumandangkan kalimat talbiyah dengan suara lantang dan bergetar:
“Labbaikallahumma labbaik… Labbaika laa syariika laka labbaik… Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak…”
Mendengar kalimat pasrah itu menggema bertalu-talu di dalam mobil, dada kami terasa sesak oleh keharuan, dan air mata beberapa jemaah di antara kami mulai menetes. Ziarah ke Miqat Tan’im ini memberikan pengalaman batin yang jernih bagi kami semua. Tempat ini adalah pos pemeriksaan spiritual; tempat di mana manusia berhenti sejenak, meluruskan niat, dan membuang sisa-sisa kesombongan sebelum mereka diperbolehkan melangkah masuk kembali ke dalam pelataran suci Ka’bah.
KBIHU NU ASSSALAM Mitra Terbaik Menuju Ibadah Mabrur
