Malam kian larut, namun energi di dalam kompleks Masjidil Haram seolah tidak pernah habis. Setelah merampungkan putaran tawaf sunah yang syahdu mengitari Ka’bah, kami melangkah menyusuri koridor penghubung menuju area Mas’a (tempat pelaksanaan sai). Berbeda dengan jemaah yang mengenakan ihram putih untuk umrah, kami malam ini berpakaian kasual santai: baju koko, celana kain, dan kaus kaki tebal untuk melindungi telapak kaki dari dinginnya lantai marmer. Di tempat ini, kami bersiap melakukan ziarah sejarah sekaligus napak tilas perjuangan seorang ibu yang luar biasa, melintasi jalur sepanjang kurang lebih 450 meter yang membentang di antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah.
Kami memulai perjalanan dari Bukit Shafa. Pemandangan antropologis di titik awal ini sangat menyentuh mata kami. Struktur asli Bukit Shafa yang berupa gundukan batu granit hitam besar sengaja dipertahankan oleh pemerintah setempat di dalam ruangan ber-AC ini, dilindungi oleh pagar kaca tebal. Kami melangkah naik ke atas bebatuan purba tersebut bersama ratusan peziarah dari berbagai benua. Semua mata menatap lurus ke arah Ka’bah yang terlihat sayup-sayup di kejauhan melalui celah pilar masjid. Kami menengadahkan tangan, mengagungkan takbir, lalu mulai melangkah turun untuk meniti jalur mendatar menuju Marwah.

Sosiografi Jalur Mas’a: Simfoni Doa dan Lampu Hijau
Berjalan di jalur sai tanpa beban pakaian ihram memberikan kami ruang pengamatan etnografi yang sangat jernih. Jalur Mas’a malam ini laksana sebuah arteri kemanusiaan yang berdenyut kencang. Jalurnya dibagi menjadi beberapa lajur tertib: lajur khusus kursi roda di bagian tengah, lajur berangkat menuju Marwah, dan lajur kembali menuju Shafa. Di sekeliling, kami menyaksikan keragaman budaya yang luar biasa. Ada rombongan jemaah wanita asal Timur Tengah yang berjalan beriringan membentuk barisan kokoh sambil merapikan abaya hitam mereka, hingga jemaah asal Asia Selatan yang melangkah tegap dengan tatapan mata yang fokus.
Suasana spiritual di jalur ini terasa begitu dinamis. Di antara keheningan dinding marmer, telinga kami menangkap gema doa yang saling bersahutan. Sekitar dua ratus meter setelah meninggalkan Shafa, pandangan kami tertuju pada bentangan lampu-lampu neon berwarna hijau yang terpasang di langit-langit masjid. Di bawah pendar cahaya hijau inilah, suasana berubah secara sosiologis.
Jemaah laki-laki di sekitar kami—baik yang berihram maupun yang berpakaian biasa seperti kami—seketika mengubah ritme jalan mereka menjadi lari-lari kecil sembari menggerakkan pundak. Sementara jemaah wanita tetap berjalan santai dengan patuh. Menyaksikan pemandangan ritmis ini, dada kami bergetar hebat. Kami ikut mempercepat langkah, melebur ke dalam simfoni gerakan manusia yang sedang menghidupkan kembali memori kepanikan sejarah purba di atas tanah gersang ini.
Nilai Keagamaan: Air Mata Siti Hajar dan Logika Ikhtiar
Sembari menyelesaikan bolak-balik perjalanan hingga genap tujuh kali di Bukit Marwah, kami merenungkan nilai keagamaan yang sangat fundamental dari ritual sai ini. Mengapa umat Islam diwajibkan berjalan dan berlari kecil di tempat ini?
Secara historis, seluruh gerakan yang kami lakukan malam ini adalah rekonstruksi total dari perjuangan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS. Belasan abad silam, di lembah yang sunyi, gersang, dan tanpa kehidupan ini, Siti Hajar ditinggalkan bersama bayinya yang masih menyusu, Ismail AS. Ketika perbekalan airnya habis dan air susunya mengering, Ismail kecil menangis histeris karena kehausan.
Didorong oleh cinta keibuan yang tak terbatas dan naluri bertahan hidup, Siti Hajar berlari naik ke atas Bukit Shafa, memicingkan mata mencari tanda-tanda kehidupan atau kafilah dagang di kejauhan. Nihil. Ia lalu berlari turun, melintasi lembah terdalam (yang kini ditandai lampu hijau) dengan tergesa-gesa agar bayinya tidak luput dari pandangan, lalu mendaki Bukit Marwah. Ia mengulang proses keputusasaan yang melelahkan itu hingga tujuh kali.
“Sai mengajarkan kami tentang esensi tertinggi dari ikhtiar insani,” bisik salah satu rekan dalam rombongan kami seraya menyeka keringat.
Siti Hajar tahu secara logika bahwa mencari air di atas bukit batu gersang adalah hal yang mustahil. Namun, ia menolak untuk berdiam diri dan menyerah pada nasib. Nilai teologis yang luar biasa di sini adalah: Allah SWT tidak memancarkan air Zamzam dari atas Bukit Shafa atau Marwah tempat Siti Hajar lelah berlari. Allah justru memancarkan mata air abadi itu dari bawah hentakan kaki bayi Ismail yang sedang menangis di dekat Ka’bah.
Pelajaran spiritual bagi kami para peziarah modern sangat jelas; tugas manusia hanyalah bergerak, berusaha, dan menghabiskan jatah ikhtiarnya hingga batas maksimal (tujuh kali balikan). Perkara dari mana hasil dan pertolongan itu akan muncul, itu adalah hak prerogatif Allah SWT yang sering kali datang dari arah yang sama sekali tidak kami duga.
Kedamaian di Ujung Tahalul
Kami mengakhiri perjalanan sai di Bukit Marwah. Di puncak batu Marwah yang landai, kami bersama ratusan jemaah lain duduk bersandar di pilar-pilar masjid untuk melepas lelah. Di sekitar kami, terlihat pemandangan penutup ibrah: jemaah umrah saling bergantian memotong beberapa helai rambut (tahalul) sebagai simbol bahwa larangan ihram mereka telah runtuh dan ibadah mereka telah sempurna.
Meskipun kami tidak melakukan tahalul fisik karena hanya melakukan ziarah tadabur, jiwa kami terasa ikut “terpotong” dari beban-beban keduniawian. Mengambil air Zamzam dingin dari tong-tong dispenser di sudut ruangan, kami meminumnya dengan rasa syukur yang membuncah di dalam dada. Air yang kami teguk malam ini adalah air yang sama yang dahulu menyeka air mata Siti Hajar di lembah sunyi ini.
Kami melangkah meninggalkan area Mas’a menuju pintu keluar dengan membawa pulang sepotong hikmah abadi: bahwa dalam menghadapi ujian hidup yang gersang, kami harus setangguh Siti Hajar—terus berlari, terus berharap, dan meyakini bahwa mata air pertolongan Allah selalu siap memancar di ujung kelelahan kami.
KBIHU NU ASSSALAM Mitra Terbaik Menuju Ibadah Mabrur
