Menembus Lembah Ji’ranah: Jejak Keadilan Sang Nabi

Perjalanan ziarah sejarah kami di bumi Makkah terus bergerak maju. Kali ini, taksi yang kami tumpangi melaju membelah kawasan perbukitan batu yang gersang menuju arah timur laut Kota Makkah. Tujuan kami adalah Masjid Ji’ranah, yang terletak di sebuah lembah bernama Wadi Ji’ranah, sekitar 24 kilometer dari pusat kota.

Sama seperti pemberhentian sebelumnya, kunjungan kami kali ini murni merupakan agenda ziarah kultural dan napak tilas sejarah sirah nabawiyah. Kami tidak mengenakan kain ihram, melainkan pakaian kasual rapi: kemeja flanel longgar, celana kain, dan sepatu jalan yang nyaman. Di sepanjang perjalanan, pemandangan luar jendela menyajikan kontras khas pinggiran Makkah; hamparan bukit batu hitam yang tajam berselingan dengan jajaran menara pemancar dan perkampungan penduduk lokal yang bersahaja.

Sesampainya di kawasan Ji’ranah, suasana antropologis yang riuh langsung menyambut kami. Tempat ini merupakan salah satu titik miqat resmi (tempat niat umrah) bagi penduduk Makkah. Oleh karena itu, area parkir dipenuhi oleh bus-bus besar dan deretan toko yang menjual kain ihram, sabun non-parfum, hingga kurma. Namun, rombongan kami memilih berjalan melewati kerumunan jemaah yang bersiap umrah tersebut, melangkah menuju area pelataran masjid untuk merenungkan peristiwa besar yang terjadi di lembah ini belasan abad silam.

Kilas Balik Lembah Hunain dan Melimpahnya Ganimah

Kami mengambil tempat duduk di area selasar luar masjid yang teduh. Angin gurun berembus kering, sesekali membawa aroma kapulaga dari kedai kopi Arab di seberang jalan. Mutawwif kami, Ustaz Bahtiar, mulai membuka kitab sejarah Islam, membawa imajinasi kami melompat ke tahun 8 Hijriah, tepatnya sesaat setelah peristiwa agung penaklukan Kota Makkah (Fathu Makkah).

Di lembah Ji’ranah inilah, Rasulullah SAW bersama sekitar 12.000 pasukan muslim bermukim selama lebih dari sepuluh malam setelah memenangkan Perang Hunain yang dahsyat melawan suku Hawazin dan Tsaqif. Perang Hunain sendiri menyisakan pelajaran sosiologis yang mendalam; di awal pertempuran, kaum muslimin sempat kocar-kacir dan terdesak karena sebagian pasukan merasa sombong dengan jumlah mereka yang besar. Namun, atas pertolongan Allah, keadaan berhasil berbalik menjadi kemenangan mutlak.

“Lembah ini dahulu menjadi saksi pengumpulan harta rampasan perang (ganimah) terbesar dalam sejarah Islam,” ujar Ustaz Bahtiar seraya menunjuk ke arah hamparan tanah di sekitar masjid.

Bayangkan saja, di lembah yang kini gersang ini, dahulu berkumpul ratusan ribu ekor kambing, puluhan ribu unta, ribuan uqiyah perak, hingga ribuan tawanan perang. Rasulullah SAW sengaja menahan pembagian harta tersebut selama belasan hari di Ji’ranah, dengan harapan pimpinan suku Hawazin datang meminta maaf dan memeluk Islam sehingga harta dan tawanan mereka bisa dikembalikan. Namun, karena mereka tak kunjung datang, pembagian harta pun akhirnya dimulai di titik ini.


Nilai Keagamaan: Keluhuran Budi dan Air Mata Kaum Ansar

Di sinilah nilai keagamaan dan keteladanan akhlak Rasulullah SAW memancar dengan begitu indahnya, menghadirkan sebuah refleksi yang mampu menggetarkan jiwa peziarah modern.

Dalam membagikan harta rampasan tersebut, Rasulullah SAW secara sengaja memberikan porsi yang sangat besar—ratusan unta dan emas—kepada para tokoh Quraisy Makkah yang baru saja masuk Islam (kaum Muallaf), seperti Abu Sufyan dan Muawiyah. Strategi dakwah ini dilakukan Nabi untuk melunakkan dan mengikat hati mereka agar iman Islam mereka semakin kokoh.

Namun, kebijakan ini memicu kesalahpahaman sosiologis di kalangan anak-anak muda kaum Ansar (penduduk asli Madinah). Mereka berbisik-bisik dengan rasa sedih, “Pedang-pedang kita masih meneteskan darah mereka, tetapi mengapa harta rampasan ini justru diberikan kepada mereka, sementara kita tidak mendapat apa-apa?”

Mendengar riak-riak ketidakpuasan tersebut, Rasulullah SAW tidak marah. Beliau mengumpulkan seluruh kaum Ansar di dalam sebuah tenda besar di lembah ini. Beliau menyampaikan sebuah khutbah yang sangat puitis dan emosional, sebuah pidato yang tercatat sebagai salah satu momen paling mengharukan dalam sejarah kemanusiaan. Rasulullah SAW bertanya kepada mereka:

“Wahai kaum Ansar, apakah kalian tidak rida ketika orang-orang itu pulang ke rumah mereka dengan membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang ke Madinah dengan membawa Rasulullah bersama kalian?”

Mendengar kalimat tersebut, seketika runtuhlah tembok kesedihan kaum Ansar. Air mata mereka tumpah membasahi janggut. Mereka menyadari betapa dangkalnya materi duniawi dibandingkan dengan kehadiran fisik sang Nabi di tengah-tengah mereka. Di Lembah Ji’ranah ini, Islam mengajarkan kita tentang hakikat kekayaan yang sejati; bahwa dunia beserta isinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai keimanan dan kedekatan spiritual bersama Rasulullah SAW.


Pulang dengan Hati yang Terpaut

Sebelum meninggalkan Ji’ranah, kami menyempatkan diri melirik ke area belakang masjid, tempat yang dahulu diyakini sebagai lokasi Bir Ji’ranah (Sumur Ji’ranah), sumur bersejarah yang airnya pernah digunakan Rasulullah SAW untuk bersuci dan membagikan mukjizat penawar. Meski kini sumur tersebut sudah ditutup oleh otoritas setempat demi menjaga orisinalitas akidah jemaah, kisah tentang keberkahannya tetap hidup di benak setiap peziarah.

Siang mulai beranjak turun, dan rombongan kami kembali naik ke atas bus ziarah. Berjalan-jalan di Ji’ranah tanpa ihram memberikan kami sebuah ruang kontemplasi yang jernih. Kami meninggalkan lembah bersejarah ini dengan membawa sebuah perspektif baru tentang arti keadilan, strategi dakwah yang penuh kelembutan, serta pengingat keras agar tidak pernah menyombongkan diri atas pencapaian duniawi.

Perjalanan ziarah sejarah kami di Kota Makkah kini telah terasa genap dan paripurna. Setiap bukit, makam, dan lembah telah membisikkan cerita masa lalunya kepada kami.

Check Also

Simbol Runtuhnya Keangkuhan Dengan Tahalul

Langkah kaki kami akhirnya sampai di titik akhir perjalanan panjang di atas lantai marmer Bukit …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *