Menyusuri Batas Tanah Haram Menuju Hudaibiyah

Perjalanan kami berlanjut meninggalkan pusat Kota Makkah yang padat. Kali ini, taksi yang kami tumpangi melaju membelah jalan raya modern ke arah barat, menuju jalan utama yang menghubungkan Makkah dan Jeddah. Tujuan kami adalah sebuah wilayah pinggiran bernama Al-Syumaisi, yang dalam catatan sejarah Islam lebih dikenal dengan nama Hudaibiyah. Jaraknya sekitar 24 kilometer dari Masjidil Haram.

Karena kunjungan ini murni untuk ziarah sejarah (wisata religi), kami tampil santai dengan kemeja katun, celana kain, dan sepatu jalan yang nyaman. Di tengah perjalanan, pandangan saya terpaku pada sebuah bangunan gapura raksasa berbentuk menyerupai sebuah Al-Qur’an raksasa yang terbuka di atas jalan raya. Itulah Gerbang Makkah, batas geografis spiritual yang memisahkan antara Tanah Haram (suci) dan Tanah Halal (biasa). Begitu taksi melewati gerbang tersebut, kami secara resmi telah keluar dari Tanah Haram untuk menyaksikan lokasi di mana diplomasi terbesar dalam sejarah Islam pernah dilahirkan.

Sesampainya di lokasi, bus-bus peziarah dari berbagai negara tampak terparkir rapi di bawah naungan pohon-pohon peneduh. Di hadapan kami, berdiri dua bangunan yang merepresentasikan jembatan waktu: sebuah masjid modern berarsitektur khas Timur Tengah dengan menara putih yang tinggi menjulang (Masjid Hudaibiyah), dan tepat di sebelahnya, terdapat kompleks reruntuhan dinding batu kuno berwarna cokelat kehitaman yang dipagari besi rapat. Reruntuhan batu itulah sisa-sisa bangunan dari masa kekhalifahan purba yang menandai titik terjadinya Perjanjian Hudaibiyah.

Di Bawah Sisa Bayang-Bayang Pohon Sumpah Setia

Suasana antropologis di sekitar reruntuhan batu kuno siang itu terasa sangat damai, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Angin sepoi-sepoi berembus membawa hawa hangat gurun. Kami berjalan mendekati pagar pembatas reruntuhan batu bersama sekelompok peziarah asal Timur Tengah dan Asia Selatan. Di sela-sela pagar, beberapa jemaah tampak khusyuk memandangi susunan batu gurun yang telah mengering selama berabad-abad tersebut.

Mutawwif kami, Ustaz Ridwan, mengajak kami berteduh di bawah sebuah pohon rindang di dekat masjid sembari membuka kembali lembaran sirah nabawiyah tahun 6 Hijriah. “Di sekitar titik inilah dahulu berdiri sebuah pohon besar yang menjadi saksi sebuah sumpah yang menggetarkan langit,” ujarnya memulai kisah.

Pada masa itu, Rasulullah SAW bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat dari Madinah menuju Makkah dengan pakaian ihram, murni untuk melaksanakan ibadah umrah dan tanpa membawa senjata perang. Namun, kaum kafir Quraisy menghadang mereka di Hudaibiyah ini dan melarang mereka masuk ke Makkah. Di tengah ketegangan dan ketidakpastian tersebut, berembus rumor bahwa sahabat Utsman bin Affan—yang diutus Nabi untuk berdiplomasi ke dalam kota Makkah—telah dibunuh oleh kaum Quraisy.

Mendengar kabar burung tersebut, Rasulullah SAW langsung mengumpulkan para sahabat di bawah sebuah pohon rindang di tempat ini. Beliau mengajak mereka untuk melakukan sebuah sumpah setia yang dikenal sebagai Bai’atur Ridhwan (Sumpah Setia yang Diridhai). Di bawah pohon itulah, 1.400 sahabat berdesakan memegang tangan Nabi, bersumpah setia untuk berjuang membela Islam bersama Rasulullah hingga titik darah penghabisan. Keimanan dan loyalitas tanpa batas para sahabat ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Fath ayat 18:

“Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon…”


Nilai Keagamaan: Seni Mengalah untuk Menang Besar

Mitos kematian Utsman ternyata tidak benar, dan situasi berganti menjadi meja perundingan. Kaum Quraisy mengirimkan utusan bernama Suhail bin Amr untuk merumuskan perjanjian damai dengan Rasulullah SAW. Di sinilah nilai keagamaan dan pelajaran politik-kemanusiaan yang sangat luar biasa terjadi.

Perjanjian yang drafnya ditulis oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini sepintas terlihat sangat merugikan kaum muslimin. Ketika Rasulullah mendiktekan kalimat “Bismillahir rahmanir rahim”, Suhail menolak dan meminta diganti dengan “Bismika allahumma” (Dengan nama-Mu, ya Allah). Ketika Nabi menyebut dirinya “Muhammad Rasulullah”, Suhail kembali memprotes dengan pongah, “Jika kami mengakui engkau utusan Allah, kami tidak akan memerangimu. Tulislah namamu sendiri, Muhammad bin Abdullah.”

Para sahabat, terutama Umar bin Khattab, sempat meradang menahan amarah menyaksikan kerendahan hati Nabi yang terus mengalah pada tuntutan kaum Quraisy. Salah satu klausul perjanjian bahkan menyebutkan bahwa jika ada warga Makkah yang kabur masuk Islam ke Madinah, ia harus dikembalikan ke Makkah. Sebaliknya, jika ada warga Madinah yang murtad ke Makkah, ia tidak akan dikembalikan. Perjanjian itu juga memaksa rombongan Nabi untuk menunda umrah mereka dan pulang ke Madinah tahun itu juga.

“Secara logika militer dan harga diri, kaum muslimin saat itu kalah telak,” lanjut Ustaz Ridwan seraya menunjuk ke arah reruntuhan batu. “Namun, Rasulullah melihat dengan kacamata wahyu dan visi masa depan yang melampaui zamannya.”

Rasulullah SAW tahu bahwa hal terpenting yang dibutuhkan Islam saat itu bukan kemenangan militer instan, melainkan pengakuan politis dan perdamaian. Dengan adanya gencatan senjata selama 10 tahun, suasana menjadi aman. Kaum muslimin bisa berdakwah secara damai tanpa takut diserang. Hasilnya sangat mencengangkan: dalam waktu dua tahun pasca-Perjanjian Hudaibiyah, jumlah orang yang masuk Islam jauh lebih banyak daripada jumlah akumulatif orang masuk Islam selama 19 tahun sebelumnya. Perjanjian Hudaibiyah inilah yang menjadi batu pijakan utama bagi penaklukan kota Makkah secara damai (Fathu Makkah) dua tahun kemudian.


Menutup Hari dengan Hidangan Kebersamaan

Menjelang zuhur, kami melangkah masuk ke dalam Masjid Hudaibiyah yang sejuk. Salat berjamaah di masjid ini terasa begitu khidmat. Tanpa balutan kain ihram, kami merasa seperti pengamat sejarah yang sedang memetik hikmah dari kecerdasan strategi sang Nabi. Hudaibiyah mengajarkan kita bahwa dalam hidup dan beragama, terkadang kita harus memiliki kedewasaan untuk “mengalah demi kemenangan yang lebih besar”. Perdamaian, diplomasi yang dingin, dan kesabaran menahan ego sering kali memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat daripada pedang maupun konfrontasi fisik.

Setelah merampungkan ziarah sejarah yang sarat makna ini, rombongan kami memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran lokal sederhana di pinggiran jalan menuju Jeddah. Di atas hamparan karpet merah, kami duduk melingkar menikmati hidangan Nasi Mandi dengan daging kambing muda yang empuk dan aroma rempah kapulaga yang kuat.

Sambil menyantap hidangan bersama, kami saling bertukar cerita tentang kesan mendalam dari Hudaibiyah. Kami meninggalkan situs bersejarah itu bukan sekadar membawa pengetahuan baru tentang sepotong perjanjian kuno, melainkan membawa pulang sebuah perspektif hidup yang berharga: bahwa kedamaian selalu memiliki jalan lurus menuju kemenangan yang hakiki.


Check Also

Deru Langkah Sai di Antara Shofa dan Marwa

Malam kian larut, namun energi di dalam kompleks Masjidil Haram seolah tidak pernah habis. Setelah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *