Menembus Menuju Kesunyian Al-Mu’alla

Langkah kaki kami bergegas menyusuri trotoar beton di kawasan Al-Hujun tepat setelah salat Subuh di Masjidil Haram usai. Pagi itu, saya tidak mengenakan pakaian ihram, melainkan baju koko putih, celana kain, dan peci hitam khas santri Nusantara. Udara Makkah pagi hari terasa sejuk, beradu dengan deru klakson bus dan taksi yang mulai memadati jalan raya utama. Di seberang jalan, berdiri kokoh pagar besi tinggi berwarna abu-abu yang membentang sepanjang ratusan meter. Di balik pagar itulah terletak Jannatul Mu’alla, tanah pemakaman kuno berusia lebih dari 1.700 tahun yang menjadi tempat peristirahat terakhir keluarga Rasulullah SAW sekaligus para ulama besar dunia.

Ketika melewati pintu gerbang besi, pemandangan antropologis yang sangat kontras langsung menyergap mata. Berbeda dengan pemakaman di Indonesia yang rindang dan dipenuhi batu nisan mewah, sejauh mata memandang di Al-Mu’alla hanya ada hamparan tanah gersang berpasir dan berkerikil putih. Tidak ada kijing, tidak ada bangunan makam (kubah), dan tidak ada nama yang tertulis di atas batu. Ribuan makam di sini hanya ditandai oleh sebongkah batu gunung berukuran kepalan tangan yang diletakkan secara vertikal di atas tanah. Di tengah kesunyian yang magis itu, rombongan kami melangkah perlahan di atas jalur pejalan kaki yang disediakan.

Bertemu “Surban Biru” di Blok 70

Tujuan utama ziarah kami pagi ini adalah melepas rindu pada sosok ulama karismatik asal Rembang, Jawa Tengah, yaitu K.H. Maimoen Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen. Beliau wafat di Kota Suci ini pada musim haji tahun 2019. Beruntung bagi jemaah asal Indonesia, para askar (petugas keamanan) dan penjaga makam Arab Saudi di sini sudah sangat familier dengan nama beliau. Begitu kami menyebut kata “Syaikh Maimoen”, seorang penjaga makam langsung mengangguk tersenyum dan mengarahkan tangannya ke arah sudut makam.

Kami berjalan menuju Blok 70, Nomor 151. Letaknya berada di baris keempat, tepat empat makam dari dinding pembatas yang berhadapan langsung dengan jalan raya eksterior. Di titik itulah Mbah Moen dikebumikan. Untuk mempermudah para peziarah Nusantara, sebuah penanda sederhana berupa lilitan kain kain penanda atau surban biru biasanya terikat halus di batu nisannya.

Saat kami tiba, sekelompok jemaah dari Jawa Timur sudah duduk bersila di paving blok samping makam. Kami pun melebur ke dalam barisan tersebut, duduk bersila beralaskan bumi Makkah. Suasana mendadak menjadi sangat syahdu ketika lantunan kalimat tahlil dan surah Yasin mulai dibaca secara berbisik agar tidak menegangkan para askar yang berjaga.

Melihat batu pipih tanpa nama di hadapan saya, air mata saya menetes. Ada getaran emosional dan spiritual yang pekat menjalar di dada. Sosok kiai besar yang semasa hidupnya menjadi paku bumi religiusitas Indonesia, kini bersemayam dengan sangat bersahaja di tanah gersang ini. Tanpa kemegahan duniawi, beliau sejajar dengan jutaan hamba Allah lainnya. Di sini, nilai keagamaan tentang kesetaraan mutlak manusia di hadapan kematian terasa begitu nyata.


Berdampingan dengan Cinta Pertama Sang Nabi

Sambil mengusap sisa air mata pasca-berdoa, mutawwif kami membisikkan sebuah kisah yang membuat hati bergetar. Semasa hidupnya, Mbah Moen sangat menyukai hari Selasa dan memiliki kecintaan mendalam pada sosok istri pertama Rasulullah, yakni Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Beliau sering melantunkan kasidah pujian untuk Ibunda Khadijah. Sungguh sebuah rahasia takdir yang indah, Allah SWT menjemput wafatnya Mbah Moen pada hari Selasa di Makkah, dan membaringkannya di kompleks pemakaman yang sama dengan Sayyidah Khadijah. Kompleks makam sang pemegang kunci surga itu sendiri terletak tidak jauh dari Blok 70, di sudut bagian dalam Al-Mu’alla.

“Ziarah ke Mu’alla ini mengajarkan kita tentang husnul khatimah,” bisik Ustaz pembimbing kami seraya berdiri. “Mbah Moen telah merampungkan tugasnya mendidik umat di tanah Jawa, dan kini pulang ke tanah asal agamanya.”

Matahari pagi Makkah mulai meninggi, menyinari bebatuan nisan yang tak berwajah di sekeliling kami. Peziarah perempuan yang hanya diperbolehkan melihat dan berdoa dari luar pagar pembatas tampak melambaikan tangan dengan takzim dari kejauhan. Kami melangkah keluar meninggalkan keheningan Jannatul Mu’alla, kembali masuk ke dalam hiruk-pikuk Kota Makkah. Namun, ada rasa damai dan tekad baru yang kami bawa pulang di dalam dada: tekad untuk melanjutkan estafet ilmu dan kesejukan beragama yang selama ini dicontohkan oleh sang Kiai Rembang.

Check Also

Simbol Runtuhnya Keangkuhan Dengan Tahalul

Langkah kaki kami akhirnya sampai di titik akhir perjalanan panjang di atas lantai marmer Bukit …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *