Mentari baru saja menyembul di ufuk timur saat bus yang kami tumpangi berhenti di kaki Jabal Rahmah. Deru mesin berbaur dengan riuh rendah obrolan jemaah dari berbagai belahan dunia. Begitu kaki melangkah turun dari bus, embusan angin gurun yang kering langsung menyapu wajah. Angin itu membawa aroma pasir hangat yang khas, tipikal udara Kota Suci Makkah di pagi hari.
Karena kunjungan kami kali ini murni untuk agenda ziarah sejarah (wisata religi) dan bukan dalam rangkaian ibadah umrah atau haji, kami tidak mengenakan kain ihram. Pagi itu, saya dan rombongan tampil kasual: mengenakan baju koko, kemeja santai, celana kain, lengkap dengan kacamata hitam dan cipratan parfum non-alkohol untuk menghalau terik matahari.
Di hadapan kami, sebuah bukit batu granit setinggi sekitar 70 meter berdiri kokoh di tepi Padang Arafah. Tangga-tangga beton menuju puncak tampak sudah penuh sesak oleh lautan manusia. Pemandangan sosiologis di sini terasa begitu kontras dan kaya. Ada jemaah yang mengenakan ihram putih (mungkin karena mereka baru saja atau akan mengambil miqat umrah), namun tidak kalah banyak pula peziarah yang berpakaian kasual seperti kami. Ada yang memakai jas rapi dari Turki, gamis hitam berbordir khas Timur Tengah, hingga batik bermotif megamendung dari Indonesia. Kami semua melebur menjadi satu arus manusia, meniti anak tangga demi anak tangga dengan perlahan.

Menyusuri Jejak Pertemuan Adam dan Hawa
Sembari mendaki, debu-debu halus gurun sesekali terbang menerpa wajah. Di kanan-kiri saya, terdengar sayup-sayup gumam doa dan selawat dalam berbagai bahasa. Di tengah langkah kaki yang mulai terasa berat, ingatan saya melayang pada lembaran sejarah awal penciptaan manusia. Berdasarkan catatan sejarah Islam, Jabal Rahmah merupakan saksi bisu peristiwa kosmis yang sangat mengharukan. Di bukit inilah, Nabi Adam AS dan Siti Hawa dipertemukan kembali oleh Allah SWT setelah ratusan tahun dipisahkan dan diturunkan di belahan bumi yang berbeda akibat memakan buah khuldi di surga.
“Coba bayangkan, tanpa teknologi, tanpa kompas, mereka berjalan membelah bumi hingga akhirnya diikatkan kembali takdirnya di atas bukit batu ini,” ujar Pak Heri, salah satu jemaah paruh baya di rombongan kami, sambil menyeka keringat di dahinya.
Kata “Arafah” sendiri secara etimologi memang erat kaitannya dengan kata ta’aruf, yang berarti saling mengenal atau bertemu kembali. Menatap bebatuan besar di sekeliling, saya merasakan getaran emosional yang mendalam. Tanpa balutan kain ihram, sensasi sebagai ‘manusia biasa’ yang sedang napak tilas ke tanah leluhur justru terasa sangat intim. Tempat ini bukan sekadar objek foto, melainkan titik mula sejarah peradaban seluruh umat manusia setelah terusir dari keindahan surga.
Fenomena Tugu Putih dan Mitos Kasih Sayang
Setelah mendaki sekitar lima belas menit di bawah sengatan matahari yang mulai meninggi, kami akhirnya tiba di puncak Jabal Rahmah. Di titik tertinggi bukit ini, berdiri sebuah monumen atau tugu beton berbentuk persegi empat berwarna putih dengan tinggi sekitar 8 meter. Tugu ini dibangun sebagai penanda simbolis titik pertemuan bersejarah Adam dan Hawa.
Suasana di sekitar tugu sangat padat dan riuh. Saya mengamati interaksi para peziarah yang sangat beragam. Karena tempat ini kental dengan narasi kasih sayang, muncul fenomena kultural yang unik sekaligus memicu perdebatan. Banyak peziarah—baik yang berihram maupun yang berpakaian biasa—berdesakan untuk menyentuh dinding tugu. Beberapa di antaranya sibuk mencoretkan nama mereka dan pasangan menggunakan spidol di permukaan batu hitam.
“Biar cintanya awet sampai tua seperti Adam dan Hawa, Mas,” seloroh seorang peziarah muda saat saya memperhatikannya sedang menulis nama di salah satu sudut batu.
Ironisnya, demi mengejar mitos tersebut, kelestarian situs bersejarah ini kerap kali dikorbankan. Padahal, petugas kebersihan dan otoritas setempat berulang kali menegaskan lewat papan pengumuman bahwa tindakan tersebut adalah vandalisme dan tidak memiliki dasar syariat dalam agama. Melihat coretan-coretan itu, ada rasa miris yang tebersit di tengah kekaguman saya pada kemegahan tempat ini.
Mengenang Khutbah Wada’: Puncak Kesempurnaan Islam
Namun, bagi saya, magnet terbesar Jabal Rahmah bukan hanya kisah romansa purba. Bukit ini memegang peranan maha penting dalam fase akhir kenabian Muhammad SAW. Di kawasan suci inilah, tepatnya pada tanggal 9 Zulhijjah tahun 10 Hijriah, Rasulullah SAW menyampaikan Khutbah Wada’ (khutbah perpisahan) di hadapan lebih dari seratus ribu sahabat saat melaksanakan ibadah haji terakhir beliau.
Sambil berdiri di kaki bukit Jabal Rahmah, Rasulullah SAW mengumandangkan pesan-pesan kemanusiaan yang sangat visioner melampaui zamannya. Beliau menegaskan kesetaraan derajat manusia tanpa memandang suku atau ras, mengharamkan pertumpahan darah, memerintahkan perlindungan terhadap hak-hak perempuan, serta menghapus sistem riba yang mencekik kaum miskin. Di bukit ini pula, turun wahyu terakhir Al-Qur’an, yaitu Surat Al-Maidah ayat 3, yang menyatakan bahwa agama Islam telah disempurnakan.
Berdiri di atas batu besar menghadap ke arah Padang Arafah yang luas, saya mencoba membayangkan atmosfer belasan abad lalu. Rasanya begitu merinding membayangkan suara lantang Rasulullah SAW bergaung di lembah ini, menyampaikan pesan terakhir sebelum beliau dipanggil pulang oleh Sang Pencipta.

Pulang dengan Sepotong Hikmah
Sore mulai menjelang, mengubah langit di atas Padang Arafah menjadi jingga keemasan. Embusan angin gurun yang tadinya membakar kulit perlahan berubah menjadi sejuk dan menenangkan. Dari puncak bukit, saya melemparkan pandangan ke sekeliling. Di luar musim haji, tempat ini terasa sunyi namun magis, menyatukan serpihan sejarah ribuan tahun yang melintasi tiga nabi besar: Adam, Ibrahim, hingga Muhammad SAW.
Kami akhirnya melangkah turun meniti anak tangga menuju bus, merapikan kembali pakaian kasual kami yang mulai berdebu. Ziarah ke Jabal Rahmah tanpa pakaian ihram ini justru memberikan ruang bagi kami untuk memosisikan diri sebagai pengamat sekaligus perenung sejarah. Kami meninggalkan bukit batu itu dengan hati yang terasa lebih penuh, membawa pulang pemahaman baru tentang arti pengampunan, cinta, dan kemanusiaan universal yang terekam abadi di tanah gersang ini.
KBIHU NU ASSSALAM Mitra Terbaik Menuju Ibadah Mabrur
